Shinkokai All Japan Show Grand Champions: Impian Penggemar Sedunia
by
Published on 07-25-2010 10:53 PM
KAIN bendera itu sudah tampak lusuh. Warnanya hijau pudar dengan surai-surai kuning di tepinya. Di atasnya tersulam gambar koi jenis kohaku bertubuh ramping dengan selarik tulisan huruf kanji di dekatnya. Sampai hari ini, mereka yang datang ke Asahi Fancy Koi di Los Angeles, pelopor importir koi Jepang di Amerika Serikat, akan bertanya-tanya: bendera apakah gerangan yang ditempatkan di ruang utama sang empunya kantor?
Syahdan, di puncak musim dingin 7 – 9 Desember 1968, masyarakat koi Jepang menggelar kontes akbar untuk pertama kalinya. The 1st All Japan Combined Nishikigoi Show ini digelar di New Otani Hotel, di Tokyo. Kontes yang digelar perkumpulan penangkar, Shinkokai, ini diikuti 1.078 koi terbaik dari seluruh Jepang.
Pada tahap penentuan Grand Champion, pilihan 35 juri terpilah dua: 14 di antaranya memilih Kohaku milik Mitsuru Nakamura, sisanya terbagi pada tiga koi lainnya yakni The Saku/Kobayashi Showa, Miyatora Sanke dan Doitsu Sanke.
Alhasil, Mits, begitu panggilan Mitsuru, memenangkan gelar Grand Champion pertama di kontes gabungan penangkar dan penggemar itu. Panji bersurai kuning diserahkan dalam acara yang khidmat.
Tapi Mits, ternyata bergembira hanya sesaat. Kemenangannya dibatalkan. Pasalnya, ia warga negara Amerika yang tinggal di Hawaii. Sebagai peranakan jepang, dialah yang merintis ekspor koi Jepang ke Amerika yang segera menjadi candu bagi warga Hawaii. Tahun 1968, ia pindah ke Los Angeles dan membuka Asahi Fancy Koi yang masih berdiri sampai hari ini.
Gelar GC All Japan Show pertama itu pun berpindah tangan ke Doitsu Sanke ukuran 55 cm milik Masayuki Araki hasil pijahan Toraichi Seki dari Sekitora Koi Farm.
Kendati demikian, Mits yang telanjur menerima bendera gelar GC, keberatan mengembalikan panji kemenangannya yang dirampas karena alasan politik: hanya koi milik orang yang tinggal di Jepang yang berhak atas gelar Grand Champion. Sampai berpuluh tahun kemudian, Henry Nakamura, putra Mits, masih menuntut pihak Shinkokai untuk mengakui gelar GC mendiang ayahnya. Shinkokai kemudian mengeluarkan gelar pelipur lara.
Apa pun hasilnya, keluarga Nakamura di Amerika masih dengan bangga memajang panji bersurai kuning perlambang Grand Champion itu di kantor Asahi Fancy Koi, Los Angeles, sebagai bukti bahwa Mits adalah pemenang perdana kontes tertinggi dunia koi.
****
SHINKOKAI adalah perkumpulan para peternak koi Jepang. Secara resmi, organisasi ini berdiri pada 1970, dua tahun setelah para peternak menggelar kontes All Japan Combined Nishikigoi Show yang heboh di atas. Shinkokai yang beranggotakan 600 peternak koi di Jepang dan puluhan cabang di luar negeri, kini dipimpin Senichi Mano, pemilik Izumiya Koi Farm. Organisasi ini tak henti-hentinya menyebarkan kecintaan pada koi ke seluruh dunia. Secara internal, Shinkokai meningkatkan kemampuan anggota-anggotanya untuk melahirkan koi berkualitas, aman dan sehat.
Setelah perselisihan soal gelar GC di kontes pertama, para peternak Jepang kemudian lebih merapikan lagi penyelenggaraan kontesnya dari tahun ke tahun.
Bersamaan dengan pembentukan Shinkokai secara resmi itu, bulan Januari 1970, All Japan Show kedua digelar. Sebanyak 1417 koi menjadi peserta. Pemenangnya adalah Showa tipe baru – sebagaimana showa yang dikenal sekarang ini -- tangkaran Tomiji Kobayashi. Showa milik Susumu Tsuitachi ini ukuran 62 cm. Showa ini dikenal pula sebagai The Triple Crown, karena ia sukses merebut gelar Grand Champion di tiga kontes terbesar di Jepang yakni, Shinkokai All Japan Show, ZNA All Japan Show (kontes para penggemar), serta Niigata Nogyosai (kontes para peternak koi di Niigata).
Setahun kemudian, pada All Japan Show ketiga 1971, barulah Kohaku sukses merebut gelar Grand Champion di ajang yang diikuti 1.749 koi. Kohaku 55 cm ini milik Toshiyuki Koike. Sejak itu, dalam penyelenggaraan All Japan Show, koi jenis kohaku kemudian mendominasi gelar GC di ajang ini.
Setelah Showa dan Kohaku, barulah di penyelenggaraan kontes kelima di tahun 1973, koi jenis Taisho Sansoku merebut gelar Grand Champion di kontes yang diikuti 2.217 koi. Sanke milik Noen Masuda sepanjang 67 cm ini hasil pijahan Ichiro Mano. Sanke ini bertubuh ramping, dengan warna merah mendominasi tubuhnya (Aka Sanke).
Dengan demikian, dalam lima kali penyelenggaraan, trio Gosanke telah menerima mahkota tertinggi koi Jepang.
Setelah itu, All Japan Show kemudian mencatat rekor demi rekor. Misalnya, koi tertua yang merebut GC dipegang oleh Himiko, Sanke ukuran 83cm milik Shinji Mastsumoto ternakan Dainichi Koi Farm. Saat merebut GC di tahun All Japan Show ke-25 di tahun 1993, Himiko berusia 22 tahun! Ia dilahirkan tahun 1971. Khalayak koi di luar Jepang ketika itu menjuluki koi ini sebagai “Sophia Loren of koi”, kecantikannya disetarakan seorang bintang lawas nan awet muda di zaman itu.
All Japan Show juga pernah mencatatkan sebuah prestasi, ketika koi tak jelas asal-muasalnya merebut gelar GC. Itulah yang terjadi pada All Japan Show ke-9 di tahun 1977. Penyandang gelar GC adalah Kohaku ukuran 73cm. Tapi sang pemilik, Tsuneharu Kakuta hanya menggelengkan kepala saat ditanya nama peternak yang melahirkan koinya. Rupanya ia membeli koi ini di sebuah lelang massal di Niigata yang dihadiri banyak peternak, tapi ia tak pernah tahu dari peternak mana gerangan koinya berasal. Dengan ketekunan seorang penggemar, Kakuta menjadikan Kohaku ini menjadi jawara di kontes yang diikuti 3.099 koi peserta.
Nama legendaris Masao Kato lantang terdengar di tahun 1988 ketika untuk pertama kalinya mantan bos organisasi penggemar koi dunia Zen Nippon Airinkai ini merebut Grand Champion. Ada banyak rekor yang pecah di tahun ini. Kohaku milik Kato ini berukuran 91cm – rekor baru. Sang GC ternakan Takeda Koi farm merebut mahkotanya di ajang yang diikuti 4.281 koi – rekor baru kedua. Ia juga GC berkelamin jantan pertama dan satu-satunya di era apresiasi koi modern – rekor ketiga. Ia juga menjadi koi pertama yang menyandingkan dua gelar Grand Champion di Shinkokai dan ZNA All Japan Show di tahun yang sama – rekor keempat.
Shinkokai juga mencatat nama Loulan, Kohaku ternakan Ogawa Koi Farm yang sukses merebut dua kali Grand Champion di tahun 1990 dan 1992 – rekor yang tak terpecahkan sampai sekarang.
Lebih dari 20 tahun lamanya, koi-koi asal Niigata dan sekitarnya di kawasan utara Jepang menjadi jawara di kontes Shinkokai. Akan tetapi, usaha yang tak kenal lelah dari kota-kota di luar Niigata meningkatkan kualitas koi ternakan mereka membuahkan hasil setelah perlahan tapi pasti, koi-koi asal kawasan selatan seperti Hiroshima dan sekitarnya juga melewati sukses Niigata. Dengan demikian, All Japan Show juga menjadi ajang pertaruhan nama besar peternak koi utara yang merupakan kampung halaman koi, dan selatan yang baru.
****
SHINKOKAI All Japan Show yang kini dikenal sebagai All Japan Combined Nishikigoi Show pada akhirnya menjadi tolok ukur tertinggi koi dunia. Di ajang inilah koi milik penangkar, pialang, dan penggemar dipertandingkan. Koi pemenangnya akan menjadi “ikan kekaisaran” yang tak lekang dalam sejarah koi. Itu pula sebabnya, koi dengan gelar GC tak akan pernah keluar dari tanah Jepang.
33 tahun setelah “kemenangan” Mits yang dibatalkan itu, barulah ada orang luar Jepang yang merebut gelar GC di Shinkoikai, yakni Kohaku bernama Kaneko yang merebut Grand Champion di The 32nd All Japan Combined Nishikigoi Show 2001. Koi sepanjang 93cm pijahan Sakai Hiroshima ini dimiliki seorang penggemar asal Taiwan, Yang Lih-Ching. Kemenangan Lih-Ching seperti membobol kebuntuan penggemar non-Jepang di kancah tertinggi kontes koi dunia. Tak berselang lama, Kohaku Yamato milik dua sahabat Martin Plows dan Mark Crampton dari Inggris merebut gelar Grand Champion di The 37th All Japan Nishikigoi Show 2006. Lalu, Kohaku Aleksandria milik Andrew Filipowski, seorang pengusaha terkenal dari Chicago, Amerika Serikat juga menjadi jawara The 39th All Japan Combined Nishikigoi Show 2008.
Tyo Arungtasik